Sabtu, 28 April 2012


TURUNNYA NABI ISA ALAIHISSALLAM

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Dalil-Dalil Turunnya ‘Isa Alaihissallam
Turunnya ‘Isa Alaihissallam di akhir zaman telah tetap dalam al-Kitab dan as-Sunnah yang shahih lagi mutawatir, hal itu merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda besar Kiamat.

a. Dalil-dalil turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam di dalam al-Qur-an al-Karim.
1). Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ إلى قوله تعالى وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ

Dan tatkala putera Maryam (‘Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Sampai dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat...” [Az-Zukhruf: 57-61]

Ayat-ayat ini turun dalam konteks bercerita tentang ‘Isa Alaihissallam, di akhirnya dijelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ , maknanya adalah turunnya Isa pada hari Kiamat merupakan salah satu tanda dekatnya Kiamat, hal itu pula ditunjuki oleh bentuk qira-ah (tanda baca) yang lainnya وَإِنَّهُ لَعَلَمٌ لِّلسَّاعَةِ dengan huruf ‘ain dan lam yang difat-hahkan, maknanya adalah tanda akan tegaknya hari Kiamat. Qira-ah seperti ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan yang lainnya dari kalangan imam ulama tafsir. [1]

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma di dalam tafsiran ayat وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ , dia berkata, “Ia adalah turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam sebelum tegaknya Kiamat.” [2]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang shahih bahwa kata (إِنَّـهُ) -dhamirnya (kata ganti)- kembali kepada ‘Isa, karena redaksi ayat menyebutkan tentangnya.” [3]

Dan jauh sekali jika makna ayat adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa Alaihissallam berupa menghidupkan yang mati, menyembuhkan orang buta, yang berpenyakit kusta juga yang lainnya dari orang-orang yang berpenyakit.

Lebih jauh lagi apa yang diungkapkan dari sebagian ulama bahwa dhamir di dalam kata (وَإِنَّهُ) kembali kepada al-Qur-an al-Karim.[4]

2). Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ إلى قوله تعالى وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

“Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, ‘Isa putera Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sampai dengan firman-Nya Ta’ala: Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” [An-Nisaa': 157-159]

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidak membunuh ‘Isa Alaihissallam, tidak juga mensalibnya, akan tetapi dia diangkat oleh Allah ke langit, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman, ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku...” [Ali ‘Imran: 55]

Maka sesungguhnya ayat-ayat itu pun menunjukkan bahwa di antara Ahlul Kitab ada yang beriman kepada ‘Isa Alaihissallam di akhir zaman. Hal itu terjadi ketika dia turun [5]sebelum wafat, sebagaimana dijelaskan oleh beberapa hadits mutawatir lagi shahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam jawabannya atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya tentang wafat dan pengangkatan ‘Isa Alaihissallam, “Segala puji hanya milik Allah, ‘Isa Alaihissallam masih hidup, dan telah tetap di dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

يَنْزِلُ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً وَإِمَامًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ.

‘Ibnu Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim dan pemimpin yang adil, lalu dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan menghapus jiz’yah (pajak).’ [6]

Telah tetap dalam hadits shahih dari beliau bahwa ‘Isa Alaihissallam akan turun pada menara putih sebelah timur Damaskus, sesungguhnya dia akan membunuh Dajjal. Barangsiapa ruhnya berpisah dengan jasadnya tidak mungkin tubuhnya akan turun dari langit, dan jika dihidupkan, maka sesungguhnya dia bangkit dari dalam kuburnya.

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

“... sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir....” [Ali ‘Imran: 55]

Ini merupakan dalil bahwa tidak dimaksudkan dengan pengangkatan ini adalah kematian, karena jika yang dimaksud dengan hal itu adalah kematian, niscaya ‘Isa q akan sama seperti layaknya orang-orang beriman lainnya, di mana Allah mengambil ruh mereka, lalu mengambilnya ke atas langit, sehingga tidak ada sesuatu yang khusus dalam pengangkatannya. Demikian pula firman-Nya وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا “Serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir,” dan jika yang dimaksud bahwa ruhnya telah berpisah dengan jasadnya, niscaya badannya di bumi akan seperti jasad para Nabi yang lainnya.

Sementara Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang lain:

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

... Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya... [An-Nisaa': 157-158]

Firman Allah Ta’ala, بَلْ رَفَعَهُ اللهُ إِلَيْهِ “Tetapi yang sebenarnya Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya,” menjelaskan bahwasanya beliau diangkat dengan badan juga ruhnya, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits shahih bahwa dia akan turun dengan badan juga ruhnya, karena jika yang dimaksud pengangkatannya adalah kematiannya, niscaya Allah berfirman, “Tidaklah mereka membunuhnya, tidak juga menyalibnya, akan tetapi dia telah mati.”

Karena itulah di antara para ulama ada yang berkata إِنِّي مُتَوَفِّيْكَ “Kami mewafatkannya,” maknanya adalah memegangmu, yaitu memegang ruh dan jasadmu. Dikatakan dalam bahasa Arab (تَوَفَّيْتُ الْحِسَابَ وَاسْتَوْفِيْقَهُ) maknanya ada-lah mengambilnya.

Dan lafazh (اَلتَّوَفِّي) secara menyendiri tidak mengandung makna kematian ruh tanpa badan, tidak juga kematian keduanya secara bersamaan kecuali dengan qarinah (petunjuk) lainnya yang terpisah.

Bahkan terkadang bermakna tidur, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya...” [Az-Zumar: 42]

Firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ

“Dan Dia-lah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari...” [Al-An’aam: 60]

Dan firman-Nya:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا

“... Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami...” [Al-An’aam: 61]” [7]

Pembicaraan dalam pembahasan ini tidak bermaksud mengungkapkan diangkatnya ‘Isa Alaihissallam, tetapi hanya sekedar menjelaskan bahwa dia q diangkat dengan jasad dan ruhnya, dan sesungguhnya dia masih hidup sampai sekarang di atas langit, dan akan turun di akhir zaman, serta akan diimani oleh orang-orang Ahlul Kitab yang ada pada waktu itu, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala:

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ

“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya...” [An-Nisaa': 159]

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Ibnu Basyar meriwayatkan kepada kami, dia berkata, ‘Sufyan meriwayatkan kepada kami, dari Abu Hushain, dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas:

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ

‘Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya...’ [An-Nisaa': 159]

Dia berkata, ‘Maksudnya adalah sebelum kematian ‘Isa bin Maryam.’” [8]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah sanad yang shahih.” [9]

Kemudian Ibnu Jarir rahimahullah berkata setelah mengungkapkan berbagai pendapat tentang makna ayat ini, “Dan pendapat yang paling benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa tafsiran ayat tesebut adalah “Dan tidak ada seorang pun di antara Ahlul Kitab yang tidak beriman kepada ‘Isa sebelum kematian ‘Isa.” [10]

Beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “(Maknanya adalah) sebelum kematian ‘Isa. Demi Allah, sesungguhnya dia sekarang masih hidup di sisi Allah, akan tetapi jika dia turun, maka semua orang akan beriman kepadanya.” [11]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Tidak diragukan bahwa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini adalah pendapat yang benar, karena pendapat itulah yang dimaksud dari beberapa redaksi ayat dalam menetapkan kebathilan semua pengakuan Yahudi bahwa ‘Isa itu dibunuh dan disalib, kemudian diserahkannya kabar ini kepada orang-orang Nasrani yang bodoh. Maka Allah mengabarkan bahwa masalahnya tidak demikian, yang ada hanyalah seseorang yang diserupa-kan-Nya bagi mereka, sehingga mereka membunuh orang yang serupa dengan-nya (‘Isa) sementara mereka tidak mencari kebenaran akan hal itu, selanjutnya beliau diangkat kepada-Nya, dan sungguh, dia akan turun sebelum hari Kiamat, sebagaimana hadits-hadits mutawatir menunjukkan hal itu.” [12]

Beliau (Ibnu Katsir) menuturkan bahwa diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma juga yang lainnya bahwa Ibnu ‘Abbas menjadikan dhamir dalam firman-Nya قَبْلَ مَوْتِهِ kembali kepada Ahlul Kitab, dan beliau berkata, “Sesungguh-nya jika riwayat ini benar, niscaya akan bertentangan dengan penjelasan ini, akan tetapi yang benar di dalam makna dan sanad adalah yang telah kami jelaskan.” [13]

b. Dalil-Dalil Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Dalam as-Sunnah al-Mu-thahharah
Dalil-dalil dari as-Sunnah tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam sangat banyak dan mutawatir, sebagian darinya telah kami uraikan, dan akan kami sebutkan di sini sebagian darinya karena khawatir akan terkesan terlalu panjang, di antaranya:

1). Diriwayatkan oleh asy-Syaikhani dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ؛ لَيُوْشِكُنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسُرُ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعُ الْحَرْبَ، وَيُفِيْضُ الْمَالَ حَتَّى لاَ يَقْبَلُهُ أَحَدٌ، حَتَّى تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا.

‘Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh telah dekat turunnya putera Maryam di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil, dia akan mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan pe-perangan, dan melimpahkan harta, sehingga tidak seorang pun menerima-nya, hingga satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan seisinya.’”

Kemudian Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, “Dan bacalah jika kalian menghendaki.

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

‘Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.’ [An-Nisaa': 159]”[14]

Ini adalah penafsiran Abu Hurairah Radhiyallahu anhu untuk ayat tersebut bahwa yang dimaksud di dalam ayat ialah di antara Ahlul Kitab akan ada yang beriman kepada ‘Isa Alaihissallam sebelum beliau wafat. Hal itu terjadi tatkala beliau turun di akhir zaman, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

2). Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

كَيْفَ أَنْتُمُ إِذَا أُنْزِلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟!

‘Bagaimanakah kalian ketika putera Maryam diturunkan sedangkan (pemimpin) imam kalian dari kalangan kalian sendiri?!’” [15]

3). Muslim meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ، ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؛ قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ ، فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: صَلِّ لَنَا. فَيَقُوْلُ: لاَ؛ إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضِ أُمَرَاءُ؛ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ.

“Senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berjuang membela ke-benaran, mereka selalu mendapatkan pertolongan sampai hari Kiamat.” Beliau berkata, “Lalu ‘Isa bin Maryam Alaihissallam turun, pemimpin mereka ber-kata, ‘Shalatlah mengimami kami.’ Beliau berkata, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi yang lainnya, sebagai kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.’” [16]

4). Telah dijelaskan sebelumnya hadits Hudzaifah bin Asid tentang tanda-tanda besar Kiamat, di dalamnya diungkapkan:

وَنُزُوْلُ عِيْسىَ بْنِ مَرْيَمَ.

“Dan turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.” [17]

5). Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ، وَإِنِّي أَوْلَى النَّاسِ بِعِيْسَـى بْنِ مَرْيَمَ؛ لأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِـيْ وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ نَازِلٌ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَاعْرِفُوْهُ.

“Para Nabi adalah saudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda-beda, akan tetapi agama mereka satu. Sesungguhnya aku adalah orang yang paling berhak (dekat) kepada ‘Isa bin Maryam, karena tidak ada Nabi di antaraku dan dia. Dan sesungguhnya dia akan turun, jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia!” [18]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Tafsiir al-Qurthubi (XVI/105), dan lihat Tafsiir ath-Thabari (XXV/90-91).
[2]. Musnad Ahmad (IV/329, no. 2921) tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
[3]. Tafsiir Ibni Katsir (VII/222).
[4]. Lihat Tafsiir Ibni Katsir (VII/223).
[5]. Yaitu, turun secara hakiki, tidaklah yang dimaksud dengan turun dan hukum yang diterapkan di bumi di akhir zaman hanya sekedar perumpamaan dominasi ruh dan rahasianya risalah beliau terhadap manusia, berkasih sayang, saling mencintai, kedamaian dan mengambil segala tujuan hukum tanpa memahami zhahirnya, maka sesungguhnya hal itu bertentangan dengan hadits-hadits yang mutawatir bahwa ‘Isa akan turun dengan ruh dan jasadnya, sebagaimana ia diangkat dengan ruh dan jasadnya Alaihissallam.
[6]. Lihat perkataan Syaikh Muhammad ‘Abduh dalam Tafsiir al-Manaar (III/317).
[7]. Majmuu’ al-Fataawaa (IV/322-323).
[8]. Tafsiir ath-Thabari (VI/18).
[9]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/131).
Dan atsar Ibnu ‘Abbas dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Fat-h (VI/492).
[10]. Tafsiir ath-Thabari (VI/21).
[11]. Tafsiir ath-Thabari (I/18).
[12]. Tafsiir Ibni Katsir (II/415).
[13]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/137).
[14]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa', bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Alaihissallam (VI/490-491, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu 'alaihi wa Sallaam Haakiman (II/189-191, Syarh an-Nawawi).
[15]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa', bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Alaihissallam (VI/491, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Haakiman (II/193, Syarh an-Nawawi).
[16]. Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Haakiman (II/193-194, Syarh an-Nawawi).
[17]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/27-28, Syarh an-Nawawi).
[18]. Musnad Ahmad (II/406, catatan pinggir kitab Muntakhab al-Kanz).

sumber : almanhaj.or.id

MAKNA KEHIDUPAN KARTINI

Perjalanan Panjang Menemukan Akhirnya

Kartini dianggap sebagai pelopor perjuangan emansipasi di Indonesia. dan akhir-akhir ini namanya dihubung-hubungkan dengan kata feminisme.

Apa yang terlanjur lekat dengan sosok Kartini sebenarnya hanyalah sebagian proses hidupnya yang gelisah. Akhir proses Ibu Kartini tak banyak terungkap. Pemikiran pada awal prosesnya-lah yang terlanjur lantang disuarakan sehingga lekat pada namanya. Padahal, menjelang akhir hayatnya, Pemikiran kartini telah banyak berubah.

KARTINI DULU

Ngga bisa disalahkan kalo ada orang yang beranggapan Kartini memperjuangkan emansipasi, mendobrak adat, dan berkiblat ke Barat, serta mengkritisi Islam. Pada awalnya, Kartini memang demikian. Inilah contoh surat-suratnya:

“… Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa” [surat kepada Stella, 25 Mei 1899]

“Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih.” [surat kepada Ny Ovinksoer, 1900]

Tidak heran kalo Kartini punya pemikiran demikian. Gimana lagi? Temen surat-menyurat Kartini kebanyakan adalah orang barat yang hendak membaratkan kaum ningrat di Indonesia, dimana tujuan akhirnya adalah agar mereka tidak melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda pada jaman tersebut. Mari kita simak teman-teman korespodensi Kartini. siapa sajakah mereka..?.

1. J.H. Abendanon

Abendon ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Deptemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan. Abendon banyak meminta nasihat dari Snouck Hurgronye (seorang orientalis yang pura-pura masuk Islam untuk mencari cara mematikan semangat jihad umat islam di Indonesia).

Menurut Hurgronye, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam. Tidak mungkin membaratkan rakyat, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang menganut agama Islam untuk kemudian dibaratkan. Dan Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini.

2. Stella (Estelle Zeehandelaar)

Seorang wanita Yahudi, anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu.

3. Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)

Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Dialah orang yg paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada awalnya, ia bermaksud untuk memurtadkan Kartini dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpeduliannya terhadap agama.

BERTEMU KYAI SHOLEH DARAT

Selain faktor teman buruk, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa memahamkan apa yang diajarkan. coba kita simak surat kartini kepada stella berikut ini.

“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yg dibacanya.” [surat kepada Stella, 6 Nov 1899]

Perlu diketahui pada waktu pemerintahan Hindia Belanda umat muslim memang dibolehkan mengajarkan Al-Qur’an dengan syarat nggak diterjemahin alias cuma belajar baca huruf arab (pengaruh ini masih dapat kita jumpai saat ini, dimana belajar Al-Quran dianggap selesai ketika telah mampu membaca Al-Quran dengan lancar sampai akhir walaupun tidak paham makna-nya –khataman-). Dan ini memang taktik belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap Al-quran dan akhirnya mereka tidak akan angkat senjata kepada penjajah kafir belanda.

Suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari balik tabir. Kartini tertarik kepada materi yg sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.

Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru kali itulah dia sempat mengerti makna dan arti surat Al-Fatihah, yang isinya begitu indah menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kyai Sholeh diminta menerjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada Kartini saat dia (Kartini) menikah dengan R. M. Joyodiningrat, Bupati Rembang.
Kyai Sholeh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut. Namun, hal ini sudah cukup membuka pikiran Kartini dalam mengenal Islam.

Tahu nggak? Sebenarnya ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang itu sebenarnya Kartini temukan dalam surat Al Baqarah ayat 257, yaitu firman Allah“…minazh-zhulumaati ilan-nuur” yang artinya “dari kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam)”. Oleh Kartini diungkapkan dalam bahasa Belanda "Door Duisternis Tot Licht". dan kemudian oleh Armien pane yang menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini diungkapkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang"

KARTINI KEMUDIAN

Kartini yang mulai mengenal Islam pun berubah. Pandangannya terhadap Islam menjadi positif.
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” [surat kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme dan emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok disebut sebagai westernisasi), namun agar para wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai Ibu. Kartini menulis dalam suratnya:

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902]

Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini menulis;
“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” [kpd Ny. Abendanon, 12 Okt 1902]

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902]

Kartini meninggal dalam usia muda 25 thn, empat hari setelah melahirkan putranya. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam. Namun yang patut disayangkan, kebanyakan orang mengetahui Ibu Kartini hanyalah sekedar sebagai pejuang emansipasi wanita. Banyak orang yang nggak tahu perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya.

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita untuk tahu lebih dalam tentang "IBU KITA KARTINI" (dalam upayanya mempelajari Islam), daripada sekedar peringatan tahunan tanpa makna.

Abu Muhammad Herman
(Dari Majalah Elfata)

Jumat, 27 April 2012

AL-MASIH AD-DAJJAL

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil


1. Makna al-Masiih
Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dua puluh tiga pendapat tentang asal kata tersebut [1]. Sementara penulis kitab al-Qaamuus melanjutkan-nya menjadi lima puluh pendapat.”[2]

Lafazh ini dimutlakkan untuk orang yang benar, juga dimutlakkan untuk orang yang sesat lagi pendusta.

Al-Masih ‘Isa bin Maryam Alaihissallam adalah orang yang benar, sementara al-Masih ad-Dajjal adalah yang sesat lagi pendusta.

Allah menciptakan dua al-Masih, salah satu dari keduanya adalah lawan untuk yang lain.

Nabi ‘Isa Alaihissallam adalah al-Masih yang membawa petunjuk, dia menyembuhkan orang buta sejak lahir, yang berpenyakit kusta, juga menghidupkan yang mati dengan seizin Allah.

Sementara Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah al-Masih yang membawa kesesatan. Dia menguji manusia dengan sesuatu yang diberikan kepadanya berupa kemampuan-kemampuan yang luar biasa, seperti menurunkan hujan, menghidupkan bumi dengan tumbuhan, dan hal-hal lain yang diluar kebiasaan.

Dajjal dinamakan juga dengan al-Masih karena salah satu matanya buta, atau karena dia mengelilingi dunia hanya dalam waktu empat puluh hari.[3]

Pendapat pertamalah yang paling kuat, karena adanya hadits:

إِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ.

“Sesungguhnya Dajjal itu terhapus (buta) sebelah matanya.” [4]


2. Makna ad-Dajjal
Lafazh ad-Dajjal diambil dari perkataan orang Arab (دَجَلَ الْبَعِيْرَ), makna-
nya adalah dicat dengan ter dan menutupi dengannya.[5]

Makna asal dari kata (الدَّجَلُ) ad-Dajalu adalah mencampuradukkan, dikatakan “دَجَلَ إِذَا لَبِسَ وَمَوَّهَ” maknanya adalah merancukan dan mengaduk-aduk.

Jadi, Dajjal adalah orang yang merancukan, pendusta dan yang diberikan sesuatu yang luar biasa. Kata tersebut termasuk bentuk mubaalaghah (melebihkan) dengan wazan (فَعَّالٌ), jadi maknanya adalah banyaknya kebohongan juga kerancuan darinya [6]. Bentuk jamaknya (دَجَّالُوْنَ), sementara Imam Malik menjamakkannya dengan kata (دَجَاجَلَةُ), dan termasuk jama’ taksir.[7]

Al-Qurthubi menuturkan bahwa Dajjal secara bahasa memiliki sepuluh makna.[8]

Dan lafazh Dajjal menjadi sebutan nama untuk al-Masih yang buta lagi pendusta. Jika dikatakan “Dajjal”, orang langsung ingat hanya kepadanya.

Dajjal dinamakan Dajjal karena dia telah menutupi kebenaran dengan kebathilan, atau karena dia telah menutupi kekufurannya di hadapan manusia dengan kebohongan, juga perancuannya kepada mereka. Ada juga yang me-ngatakan bahwa dia menutupi perkara yang benar dengan jumlah pengikutnya yang banyak [9], wallaahu a’lam.

3. Sifat Dajjal dan Hadits-Hadits yang Menjelaskannya
Dajjal adalah seorang laki-laki dari keturunan Adam. Dia memiliki banyak sifat yang dijelaskan dalam berbagai hadits agar manusia mengenalnya dan memberikan peringatan kepada mereka atas kejelekannya, sehingga ketika dia keluar maka orang-orang yang beriman akan mengenali dan tidak terkena fitnahnya. bahkan mereka akan tetap mengetahui sifat-sifatnya yang dikabar-kan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sifat-sifat ini dapat membedakannya dari manusia yang lain. Maka tidak akan ada yang tertipu kecuali orang bodoh yang telah ditetapkan kesengsaraan baginya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon keselamatan.

Di antara sifat-sifat tersebut bahwa dia seorang laki-laki, masih muda, berkulit merah, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan (leter o), berambut keriting, keningnya lebar, dadanya bidang, mata yang kanannya buta, mata tersebut tidak muncul tidak pula tertancap dalam seakan-akan buah anggur yang menonjol, sementara di atas matanya yang kiri ada daging keras yang tumbuh, di antara kedua matanya tertulis huruf ك، ف، ر dengan huruf yang terputus-putus, atau (كافـر) dengan bersambung, setiap muslim dapat membacanya, baik dia orang yang buta huruf maupun tidak. Dan di antara sifatnya bahwa dia orang yang mandul, tidak memiliki anak.

Berikut ini sebagian hadits shahih yang menjelaskan berbagai sifatnya di atas, dan hadits-hadits tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan kemunculan Dajjal.

a. Diriwayatkan dari ‘Umar Radhyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَطُوْفُ بِالْبَيْتِ... (فَذَكَرَ أَنَّهُ رَأَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ ، ثُمَّ رَأَى الدَّجَّالَ، فَوَصَفَهُ، فَقَالَ:) فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيْـمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيٍنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ؛ قَالُوْا: هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا اِبْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ.

“Ketika aku sedang tidur, aku (bermimpi) melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah….” (Kemudian beliau menuturkan bahwa beliau melihat Nabi ‘Isa q, lalu melihat Dajjal dan mensifatinya, beliau berkata), “Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki dengan badan yang besar, merah (kulitnya), rambutnya keriting, matanya buta sebelah, seolah-olah matanya adalah buah anggur yang menonjol.” Mereka (para Sahabat) berkata, “Orang yang paling mirip dengan Dajjal ini adalah Ibnu Quthn [10], seorang laki-laki dari Khuza’ah.” [11]

b. Diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan Dajjal di tengah-tengah manusia, lalu beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلاَ وَإِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak picek (buta sebelah), dan ketahuilah sesungguhnya al-Masih Dajjal adalah picek mata sebelah kanannya. Matanya bagaikan anggur yang menonjol.” [12]

c. Dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika mensifati Dajjal:

إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ.

“Sesungguhnya dia adalah seorang pemuda, rambutnya sangat keriting, matanya menonjol, seolah-olah aku sedang menyerupakannya dengan ‘Abdul ‘Uzza bin Quthn.” [13]

d. Dalam hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَسِيْحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيْرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدُ، أَعْوَرٌ، مَطْمُوْسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلاَ جَحْـرَاءَ، فَإِنْ أَلْبَسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوْا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ.

“Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan, keriting, buta sebelah, mata yang terhapus tidak terlalu menonjol, tidak pula terlalu ke dalam, maka jika dia melakukan kerancuan (mengaku sebagai Rabb) kepadamu, maka ketahuilah sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah.”[14]

e. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَأَمَّا مَسِيْحُ الضَّلاَلَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيْضُ النَّحْرِ، فِيْهِ دَفَأٌ.

“Adapun Masihud Dhalalah (Dajjal), maka sesungguhnya dia buta sebelah matanya, keningnya lebar, atas dadanya bidang dan badannya agak bongkok.”[15]

f. Dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:

اَلدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جُفَالُ الشَّعَرِ.

“Dajjal itu buta mata sebelah kirinya, dan berambut gembal.” [16]

g. Dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوْبٌ كَافِرٌ.

“Dan sesungguhnya di antara dua matanya tertulis Kaafir.” [17]

Dalam satu riwayat:

ثُمَّ تَهَجَّاهَا (ك، ف، ر)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ.

“Kemudian beliau mengejanya kaaf faa’ raa’, setiap muslim dapat membacanya.”[18]

Sementara dalam riwayat lain:

يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٌ وَغَيْرُ كَاتِبٍ.

“Setiap mukmin dapat membacanya, baik yang bisa menulis atau tidak.” [19]

Tulisan tersebut nampak secara hakiki [20]. Semua manusia tidak memiliki masalah dalam tulisan ini, yang pintar maupun yang bodoh. Demikian pula orang yang ummi (buta huruf), “Hal itu karena sesungguhnya kemampuan mata diciptakan oleh Allah untuk para hamba sesuai dengan kehendak-Nya dan kapan Dia menghendakinya. Seorang mukmin akan dapat melihatnya dengan mata penglihatannya walaupun dia tidak bisa menulis; sementara orang kafir tidak melihatnya walaupun dia bisa menulis, sebagaimana orang-orang yang beriman bisa melihat berbagai macam dalil dengan pandangannya sementara orang kafir tidak bisa melihatnya. Maka Allah menciptakan kemam-puan untuk melihat (lagi membaca) tanpa harus belajar terlebih dahulu, karena pada zaman tersebut banyak hal yang terjadi diluar kebiasaan.” [21]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang benar berdasarkan pendapat para ulama bahwa tulisan tersebut nampak secara nyata. Ia adalah tulisan secara hakiki, Allah menjadikannya sebagai tanda dari berbagai tanda yang pasti atas kekufuran, kebohongan dan kebathilannya. Allah Ta’ala menampakkannya kepada setiap muslim yang bisa menulis atau tidak, dan menyembunyikannya dari setiap orang yang Allah kehendaki kesengsaraan baginya dan terfitnah olehnya, hal itu sama sekali tidak mustahil.”[22]

h. Dan di antara sifatnya adalah apa yang dijelaskan dalam hadits Fathimah binti Qais Radhiyallahu anhuma tentang kisah al-Jassasah. Di dalam hadits tersebut, Tamim ad-Dari Radhiyallahu anhu berkata, “Akhirnya kami pergi dengan cepat hingga kami masuk ke sebuah kuil, ternyata di dalamnya ada seorang yang sangat besar yang tidak pernah kami lihat sama sekali sebelumnya, dan dia diikat dengan sangat kuat.” [23]

i. Dan di dalam hadits ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ.

“Sejak penciptaan Adam sampai hari Kiamat tidak ada satu makhluk yang lebih besar fitnahnya daripada Dajjal.” [24]

j. Adapun (sifat) Dajjal bahwa dia tidak memiliki keturunan, dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad, dia berkata kepada Abu Sa’id, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لاَ يُوْلَدُ لَهُ.

‘Sesungguhnya dia (Dajjal) tidak bisa memiliki keturunan?’
Dia (Abu Sa’id) berkata, ‘Benar,’ jawabku.” [25]

Yang perlu diperhatikan dari berbagai riwayat terdahulu bahwa pada sebagian riwayat dijelaskan mata yang kanannya buta, sementara pada riwayat lainnya mata kirilah yang buta, padahal semua riwayat tersebut adalah shahih, maka ada sesuatu yang musykil di dalamnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berpendapat bahwa hadits Ibnu ‘Umar yang diriwayatkan dalam ash-Shahiihain dan hadits yang menjelaskan bahwa mata kanannya yang buta adalah lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa mata kirinya yang buta, karena hadits yang disepakati atas keshahihannya lebih kuat daripada yang lain. [26]

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berpendapat bahwa kedua mata Dajjal adalah cacat, karena semua riwayat adalah shahih. Mata yang dihapus adalah mata yang padam, maksudnya yang hilang cahayanya, yaitu mata yang sebelah kanan sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu ‘Umar. Adapun mata yang kiri adalah mata yang di depannya ada daging tebal, maksudnya mata yang tertutupi tetapi masih ada cahayanya, ini pun cacat. Jadi dia adalah orang yang cacat kedua matanya, karena kata al-a’war untuk semua anggota badan arti-nya buruk/cacat, terutama jika berhubungan dengan mata. Maka kedua mata Dajjal adalah cacat, salah satunya hilang penglihatannya dan yang lain dengan kecacatannya.

An-Nawawi rahimahullah mengomentari penggabungan dalil ini dengan perkata-annya, “Penggabungan inilah yang paling tepat.”[27]

Pendapat ini dianggap yang paling kuat oleh Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah.[28]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 679).
[2]. Lihat Tartiibul Qaamuus (IV/239), penulis al-Qaamuus menuturkan bahwa beliau memaparkan berbagai pendapat ini dalam kitab Syarhu Masyaariqil Anwaar dan yang lainnya.
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (IV/326-327), Lisaanul ‘Arab (II/594-595).
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjaal (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[5]. Lihat Lisaanul ‘Arab (XI/236), Tartiibul Qaamuus (II/152).
[6]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/102).
[7]. Lisaanul ‘Arab (XI/236).
[8]. At-Tadzkirah (hal. 658).
[9]. Lisaanul ‘Arab (XI/236-237), dan Tartiibul Qaamuus (II/152).
[10]. Ibnu Quthn. Namanya adalah ‘Abdul Uzza bin Quthn bin ‘Amr al-Khuza’i, ada yang mengatakan bahwa dia adalah keturunan Bani Musthaliq dari Khuza’ah. Ibunya adalah Halah binti Khuwailid, dia bukan seorang Sahabat. Meninggal pada zaman Jahiliyyah. Adapun riwayat yang menjelaskan bahwa dia berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Apakah berdampak negatif penyerupaannya?” beliau men-jawab, “Tidak, engkau seorang muslim sementara dia adalah kafir.” Ini adalah tambahan yang lemah dari al-Mas’udi dalam riwayat Ahmad, dan hadits ini telah bercampur-baur dengan hadits lain.
Lihat komentar Ahmad Syakir terhadap kitab Musnad Ahmad (XV/30-31), lihat al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (IV/239), dan Fat-hul Baari (VI/488, XIII/101).
[11]. Shahiihul al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih Ibni Maryam q wal Masiihid Dajjal (II/237, Syarh an-Nawawi).
[12]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[13]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/65, Syarh an-Nawawi).
[14]. Sunan Abi Dawud (XI/443-‘Aunul Ma’buud). Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (II/317-318, no. 2455).
[15]. Musnad Imam Ahmad (XV/28-30) tahqiq dan syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih,” dan dihasankan oleh Ibnu Katsir.
Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/130) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[16]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/60-61, Syarh an-Nawawi).
[17]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/91, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[18]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[19]. Shahiih Muslim (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[20]. Berbeda dengan orang yang berkata, “Tulisan tersebut adalah kiasan dari tanda sesuatu yang terjadi,” sesungguhnya ini adalah pendapat yang lemah. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/ 60-61), dan Fat-hul Baari (XIII/100).
[21]. Fat-hul Baari (XIII/100).
[22]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/60).
[23]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qishshatul Jassasah (XVIII/82, Syarh an-Nawawi).
[24]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Baqiyatu min Ahaadiitsid Dajjal (XVIII/86-87, Syarh an-Nawawi).
[25]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Dzikri Ibni Shayyad (XVIII/50, Syarh an-Nawawi).
[26]. Fat-hul Baari (XIII/97).
[27]. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (II/235).